DI BALIK JENDELA KELABU
Hingar bingar suara kereta api sudah mulai mehilang dari alun-alun
kota yang penuh keramaian. Suhu kini mulai merendah seiring tenggelamnya
matahari yang pulang keperaduan sejak tadi. Kota itu tampak kaku bagai mayat
yang tak berdaya seakan jasad ditinggalkan ruhnya. Dalam kegelapan malam yang
hanya di sinari oleh bulan sabit yang juga hendak menghilang, sesosok bayangan
duduk di sebuah stasiun kereta yang tampak amat sepi oleh makhluk yang biasa
berkeliaran. Kemanakah mereka , apakah mereka sedang tidur nyenyak di rumah
megah yang dikelilingi emas, ataukah mereka berkeliaran dijalan bagai burung
yang kehilangan sarangnya. Entahlah, namun sesosok bayangan tersebut sedang
merenung ataukah tertidur pulas dalam alam bawah sadar.
#
Kini pagi yang cerah datang menyambut kota yang mati semalam itu,
bagaikan seseorang yang mati suri, kota itu kembali ramai oleh suara kereta
yang gaduh dan suara makhluk social yang riuh. Aktivitas pun segera dimulai,
terlihat dengan adanya segerombolan penumpang yang ingin berangkat kerja, seklompok
orang yang berdagang dan sekolompok orang yang berlalu lalang . Namun, dari
tadi malam sampai sekarang, penglihatann ku hanya terfokus ke salah seorang
anak kecil yang masih tertidur di bangku stasiun. Ia tampak tidak bergerak dan
bernafas dari kejauhan , namun ketika ku mencoba lebih dekat ia masih bernyawa
dan masih menghembuskan nafas. Aku duduk di dekatnya, selang beberapa waktu ia
terbangun kerena mendengar suara kereta yang baru tiba mengantar penumpang, Ia
terkejut ketika melihat mata ku hanya tertuju padanya, tanpa basa basi ia
langsung pergi tanpa sepatah kata pun. Aku semakin bingung dan penasaran
tentang anak itu dan ingin mengetahui lebih lanjut mengapa ia sering tidur
sendiri di stasiun kereta yang amat sepi dan menyeramkan itu.
Tak butuh waktu lama, akibat kegigihan dan rasa penasaran yang ku
miliki, aku mendapat sedikit informasi mengenai anak tersebut, Ia ternyata
bernama Ridho dan tinggal di dekat kali
yang tak jauh dari stasiun kereta. Ia
memiliki seorang ibu yang lumpuh total akibat terlindas kereta api. Aku terus
menggali informasi yang sekiranya bisa ku dapatkan lewat orang-orang sekitar
bahkan dari Ridho langsung. Tujuan ku bukan hanya sekedar ingin tahu apa dan
bagaimana kehidupan Ridho, namun aku penasaran mengapa ia bersifat digin kepada
semua orang disekitarnya. Setiap pagi dan Sore aku sengaja singgah di kota
kumuh dekat stasiun kereta itu, tak lain tujuan ku ialah hanya sekedar ingin
bertemu Ridho dan bertanya langsung apa yang mengganjal di benak ku.
Suatu sore ketika aku kembali singgah di stasiun itu, aku melihat
Ridho sedang ngamen dengan botol minuman yang didalamya ada beberapa kerikil
kecil yang bisa sekedar membunyikan suara ribut di telinga. Aku mendekat dan
menyapanya .
“ Kamu Ridho kan , anak kecil yang sering ngamen disini ???
“ Darimana kamu tau nama ku, dan untuk apa kau bertanya padaku
???”. Ia terlihat menjawab dengan nada yang sedikit keras dan kelihatan ingin
melarikan diri. Namun aku dapat menggapai tangan mungilnya walaupun ia berusaha
sekuat tenaga ingin melepaskan diri, merasa sudah tak berdaya, ia menyerah dan
pasrah .
“ kamu kenapa lari , aku orang baik kok, nama ku Nayla”. Aku
memperkenalkan diri walau sebenarnya ia mungkin tak igin tau nama ku atau
bahkan tak ingin mengenalku.
“Aku tak perlu lagimemperkenalkan diri karena kau sudah tau sendiri
siapa nama ku,”.
Aku memang tau nama mu dari orang sekitar sini yang terbiasa lalu
lalang , aku sengaja mencari informasi karena aku penasaran dengan sosok
seorang anakkecil yang selalu tidur menyendiri di bangku stasiun sendiri
tatkala semua orang sudah meninggalkan stasiun, tapi kau masih saja sendiri
merenung, kamu adalah Ridho, kamu tinggal di kali dekat stasiun kereta ini, dan
kamu tinggal dengan ibumu yang lumpuh’. Aku mencoba menjelaskan agar Ridho
tidak kebingungan mengenai tujuan ku mencari informasi tentang dirinya.
“ kau memang benar, Aku tinggal dengan ibuku yang lumpuh akibat
terlindas kereta api yang menuju arah Surabaya”. Ridho berlari kearah rumah
kumuh dekat kali yang hanya berdinding terpal dan kardus bekas yang tak layak
pakai, pintupun tidak ada dan hanya beralaskaan pakain yang sudah dibuang dan
taklayak pakai. Ia menyuruh ku mengikutinya. Sesampai disana, Aku sangat terkejut
melihat keadaan ibu Ridho yang tergeletak mengenaskan dengan kedua kaki yang sudah
tidak ada dan jauh dari kata perawatan medis, kakinya hanya dibiarkan terpotong
dan semakin lama membengkak akibat iritasi dan selalu mengeluarkan darah akibat
tidak melalui proses operasi yang kita kenal dengan amputasi. Saking kagetnya,
aku lupa mengucapkan salam kepada ibunya.
“ Assalamu’alaikum, Aku Nayla
buk, senang bertemu dengan ibu”. Ucapku sambil meneteskan air mata
karena tak kuat menahan haru dengan keadaan keluarga kecil itu.
Waalaikumussalam, aku maimunah ibunya Ridho”. Ia menjawab ku dengan
lembut dan heran, karena menurutnya aku adalah orang pertama yang menginjakkan
kaki dirumah kumuh nan mungil itu selain Ridho.
Kini aku tahu kisah tentang seorang anak kecil yang sangat
misterius dan suka menyendiri di stasiun tatkala orang sudah menghilang . ridho
ditinggal ayahnya begitu saja karena melihat istrinya sudah tak berdaya lagi
dan tidak ada biaya berobat, ia beralasan keluar kota untuk mencari nafkah,
namun dalam beberapa bulan ia menghilang tanpa jejak bagai ditelan bumi, selang
beberapa waktu lagi mereka mendengar kabar bahwa Ayah Ridho telah menikah
dengan orang Jambi. Ridho tak kuat mendengar kabar tersebut, dari situlah ia
menjadi seorang anak yang pendiam dan misterius, sehingga kebanyakan orang
menganggap ia ada keterbelakangan mental . Namun, disamping anggapan miring mengenainya, Ia tak pernah
sekalipun mendengar kata orang karena ia dianggap pendiam dan misterius. Ia
mencari makan untuk ibunya dan dirinya sendiri dengan ngamen sehari-hari di
stasiun kereta.
Setelah panjang lebar curhat, saya pun pamit pulang kepada
keduanya. Namun aku lagi-lagi terkejut dengan banyaknya kerumunan orang di luar
beserta Satpol PP tak ketinggalan alat berat yang telah disiapkan pemerintah
untuk menggusur areal kumuh itu karena dianggap tidak memiliki ijin mendirikan
rumah dan untuk kepentingan umum. Ridho yang tak terima dengan hal tersebut
memberontak bagai orang gila yang ganas, si kecil mungil itu berani melawan
petugas yang ratusan banyaknya, warga yang mendirikan perkampungan kumuh di
sekitaran kali itu, cenderung pasrah dan tak bisa berbuat apa-apa, namun Ridho
dengan kegigihanya Ia berdiri dengan berani di depan alat berat yang akan
menerjang rumah satu-satunya itu. Tanpa ingin mengurungkan niatnya ia tetap
berdiri di tempat itu walau nyawa taruhannya. Aku yang melihat dengan mata
kepala ku sendiri merasa bermimpi melihat keberanian anak sekecil itu menantang
maut, warga sekitar juga mencoba mengambil Ridho, namun ia tidak rela rumah
semata wayang tempat tinggal ia dan ibunya digusur begitu saja. Akhirnya tanpa
berfikir panjang petugas menyalakan mesinnya dan langsung menggusur perkampungn
kumuh itu termasuk Ridho yang bersikeras tak ingn meninggalkan rumah itu, Ridho
yang malang dan Ibu yang tragis tertimbun oleh alat berat dan terkubur bersama di rumah kumuh
itu.
TAMAT
Tidak ada komentar:
Posting Komentar