Minggu, 29 April 2018

Cerpen Inspiratif


DI BALIK JENDELA KELABU

Hingar bingar suara kereta api sudah mulai mehilang dari alun-alun kota yang penuh keramaian. Suhu kini mulai merendah seiring tenggelamnya matahari yang pulang keperaduan sejak tadi. Kota itu tampak kaku bagai mayat yang tak berdaya seakan jasad ditinggalkan ruhnya. Dalam kegelapan malam yang hanya di sinari oleh bulan sabit yang juga hendak menghilang, sesosok bayangan duduk di sebuah stasiun kereta yang tampak amat sepi oleh makhluk yang biasa berkeliaran. Kemanakah mereka , apakah mereka sedang tidur nyenyak di rumah megah yang dikelilingi emas, ataukah mereka berkeliaran dijalan bagai burung yang kehilangan sarangnya. Entahlah, namun sesosok bayangan tersebut sedang merenung ataukah tertidur pulas dalam alam bawah sadar.

#

Kini pagi yang cerah datang menyambut kota yang mati semalam itu, bagaikan seseorang yang mati suri, kota itu kembali ramai oleh suara kereta yang gaduh dan suara makhluk social yang riuh. Aktivitas pun segera dimulai, terlihat dengan adanya segerombolan penumpang yang ingin berangkat kerja, seklompok orang yang berdagang dan sekolompok orang yang berlalu lalang . Namun, dari tadi malam sampai sekarang, penglihatann ku hanya terfokus ke salah seorang anak kecil yang masih tertidur di bangku stasiun. Ia tampak tidak bergerak dan bernafas dari kejauhan , namun ketika ku mencoba lebih dekat ia masih bernyawa dan masih menghembuskan nafas. Aku duduk di dekatnya, selang beberapa waktu ia terbangun kerena mendengar suara kereta yang baru tiba mengantar penumpang, Ia terkejut ketika melihat mata ku hanya tertuju padanya, tanpa basa basi ia langsung pergi tanpa sepatah kata pun. Aku semakin bingung dan penasaran tentang anak itu dan ingin mengetahui lebih lanjut mengapa ia sering tidur sendiri di stasiun kereta yang amat sepi dan menyeramkan itu.

Tak butuh waktu lama, akibat kegigihan dan rasa penasaran yang ku miliki, aku mendapat sedikit informasi mengenai anak tersebut, Ia ternyata bernama  Ridho dan tinggal di dekat kali yang tak jauh dari  stasiun kereta. Ia memiliki seorang ibu yang lumpuh total akibat terlindas kereta api. Aku terus menggali informasi yang sekiranya bisa ku dapatkan lewat orang-orang sekitar bahkan dari Ridho langsung. Tujuan ku bukan hanya sekedar ingin tahu apa dan bagaimana kehidupan Ridho, namun aku penasaran mengapa ia bersifat digin kepada semua orang disekitarnya. Setiap pagi dan Sore aku sengaja singgah di kota kumuh dekat stasiun kereta itu, tak lain tujuan ku ialah hanya sekedar ingin bertemu Ridho dan bertanya langsung apa yang mengganjal di benak ku.

Suatu sore ketika aku kembali singgah di stasiun itu, aku melihat Ridho sedang ngamen dengan botol minuman yang didalamya ada beberapa kerikil kecil yang bisa sekedar membunyikan suara ribut di telinga. Aku mendekat dan menyapanya .

“ Kamu Ridho kan , anak kecil yang sering ngamen disini ???

“ Darimana kamu tau nama ku, dan untuk apa kau bertanya padaku ???”. Ia terlihat menjawab dengan nada yang sedikit keras dan kelihatan ingin melarikan diri. Namun aku dapat menggapai tangan mungilnya walaupun ia berusaha sekuat tenaga ingin melepaskan diri, merasa sudah tak berdaya, ia menyerah dan pasrah .

“ kamu kenapa lari , aku orang baik kok, nama ku Nayla”. Aku memperkenalkan diri walau sebenarnya ia mungkin tak igin tau nama ku atau bahkan tak ingin mengenalku.

“Aku tak perlu lagimemperkenalkan diri karena kau sudah tau sendiri siapa nama ku,”.

Aku memang tau nama mu dari orang sekitar sini yang terbiasa lalu lalang , aku sengaja mencari informasi karena aku penasaran dengan sosok seorang anakkecil yang selalu tidur menyendiri di bangku stasiun sendiri tatkala semua orang sudah meninggalkan stasiun, tapi kau masih saja sendiri merenung, kamu adalah Ridho, kamu tinggal di kali dekat stasiun kereta ini, dan kamu tinggal dengan ibumu yang lumpuh’. Aku mencoba menjelaskan agar Ridho tidak kebingungan mengenai tujuan ku mencari informasi tentang dirinya.

“ kau memang benar, Aku tinggal dengan ibuku yang lumpuh akibat terlindas kereta api yang menuju arah Surabaya”. Ridho berlari kearah rumah kumuh dekat kali yang hanya berdinding terpal dan kardus bekas yang tak layak pakai, pintupun tidak ada dan hanya beralaskaan pakain yang sudah dibuang dan taklayak pakai. Ia menyuruh ku mengikutinya. Sesampai disana, Aku sangat terkejut melihat keadaan ibu Ridho yang tergeletak mengenaskan dengan kedua kaki yang sudah tidak ada dan jauh dari kata perawatan medis, kakinya hanya dibiarkan terpotong dan semakin lama membengkak akibat iritasi dan selalu mengeluarkan darah akibat tidak melalui proses operasi yang kita kenal dengan amputasi. Saking kagetnya, aku lupa mengucapkan salam kepada ibunya.

“ Assalamu’alaikum, Aku Nayla  buk, senang bertemu dengan ibu”. Ucapku sambil meneteskan air mata karena tak kuat menahan haru dengan keadaan keluarga kecil itu.

Waalaikumussalam, aku maimunah ibunya Ridho”. Ia menjawab ku dengan lembut dan heran, karena menurutnya aku adalah orang pertama yang menginjakkan kaki dirumah kumuh nan mungil itu selain Ridho.

Kini aku tahu kisah tentang seorang anak kecil yang sangat misterius dan suka menyendiri di stasiun tatkala orang sudah menghilang . ridho ditinggal ayahnya begitu saja karena melihat istrinya sudah tak berdaya lagi dan tidak ada biaya berobat, ia beralasan keluar kota untuk mencari nafkah, namun dalam beberapa bulan ia menghilang tanpa jejak bagai ditelan bumi, selang beberapa waktu lagi mereka mendengar kabar bahwa Ayah Ridho telah menikah dengan orang Jambi. Ridho tak kuat mendengar kabar tersebut, dari situlah ia menjadi seorang anak yang pendiam dan misterius, sehingga kebanyakan orang menganggap ia ada keterbelakangan mental . Namun, disamping  anggapan miring mengenainya, Ia tak pernah sekalipun mendengar kata orang karena ia dianggap pendiam dan misterius. Ia mencari makan untuk ibunya dan dirinya sendiri dengan ngamen sehari-hari di stasiun kereta.  

Setelah panjang lebar curhat, saya pun pamit pulang kepada keduanya. Namun aku lagi-lagi terkejut dengan banyaknya kerumunan orang di luar beserta Satpol PP tak ketinggalan alat berat yang telah disiapkan pemerintah untuk menggusur areal kumuh itu karena dianggap tidak memiliki ijin mendirikan rumah dan untuk kepentingan umum. Ridho yang tak terima dengan hal tersebut memberontak bagai orang gila yang ganas, si kecil mungil itu berani melawan petugas yang ratusan banyaknya, warga yang mendirikan perkampungan kumuh di sekitaran kali itu, cenderung pasrah dan tak bisa berbuat apa-apa, namun Ridho dengan kegigihanya Ia berdiri dengan berani di depan alat berat yang akan menerjang rumah satu-satunya itu. Tanpa ingin mengurungkan niatnya ia tetap berdiri di tempat itu walau nyawa taruhannya. Aku yang melihat dengan mata kepala ku sendiri merasa bermimpi melihat keberanian anak sekecil itu menantang maut, warga sekitar juga mencoba mengambil Ridho, namun ia tidak rela rumah semata wayang tempat tinggal ia dan ibunya digusur begitu saja. Akhirnya tanpa berfikir panjang petugas menyalakan mesinnya dan langsung menggusur perkampungn kumuh itu termasuk Ridho yang bersikeras tak ingn meninggalkan rumah itu, Ridho yang malang dan Ibu yang tragis tertimbun oleh alat berat dan terkubur bersama di rumah kumuh itu. 



TAMAT




















Tidak ada komentar:

Posting Komentar

STRATEGI SUMEDANG DALAM MEMBANGUN KABUPATEN WISATA

Pariwisata merupakan salah satu aspek utama dalam mengembangkan kearifan lokal di suatu daerah. Tidak terkecuali kabupaten Sumedang yang...